Posted by: Jaring | April 21, 2008

Offshore Site Visit I (BL-Bekapai Platform)

Setelah melalui beberapa initial training plus safety induction akhirnya hari itu datang juga…Ya…hari2 yang diimpikan pas dulu masih ngantor di Jakarta (yang tiap hari melototin itu layar komputer, pe bosan liat mukaku)…Yup2…akhirnya melaut juga…

Begini cerita lengkapnya

Kunjungan ke lapangan merupakan hal lazim yang dilakukan oleh engineers baik di oil service company maupun oil company sendiri atau vendor dan supplier lainnya dalam rangka perkenalan awal kondisi actual lapangan yang sedang atau pun akan dibangun, melakukan fit up material yang akan dipasang dan beberapa hal teknis lainnya. BL-Bekapai Platform terletak di blok Bekapai, Selat Makassar. BL sendiri merupakan kependekan dari Bravo Lima, salah satu nama yang diberikan oleh Total E & P Indonesie (TEPI) kepada platforms-nya. Selain Bravo Lima, ada juga Bravo Alpha (BA), Bravo Beta (BB), Bravo Eko (BE), Bravo Hotel (BH), Bravo Gulf (BG) dan masih banyak lainnya.

Blok Bekapai terlihat pada Gambar 1 di atas (bagian peta yang diberii lingkaran biru). Selain Blok Bekapai, di Selat Makassar juga terdapat Blok Peciko dengan beberapa offshore platforms di lokasi tersebut.

Untuk mencapai BL Platform dibutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan (tergantung jenis surfer yang digunakan) dari Senipah jetty. Jetty tersebut tepat berada di depan Total BSP Process Plant, gambaran kondisi jetty terdapat di Gambar 2. Total BSP (Bekapai Senipah Peciko) melayani blok Peciko dan Bekapai, sedangkan lokasi process plant berada di Senipah dengan demikian diberi nama Total BSP. Di Kutai Kartanegara, selain Total BSP, terdapat juga Total Handil yang terletak di Handil, Kecamatan Muara Jawa.

Setelah melengkapi PPE (Perlengkapan Keselamatan Pribadi) yang terdiri dari standard safety helmet and shoes, glass, gloves, dan ear plugs, pihak yang akan berkunjung ke anjungan lepas pantai harus menukarkan ID Card perusahaan masing-masing dengan Total’s ID Card dan menerima boarding pass dari petugas administrasi jetty yang selanjutnya akan diberikan kepada security agar bisa naik ke surfer. Surfer (contoh surfer pada Gambar 3) merupakan moda transportasi perairan yang bisa mengangkut passengers maupun material dengan dimensi dan berat sendiri yang tidak terlalu besar. Bentuknya seperti kapal cepat biasa, namun memilik safety standard yang cukup baik. Hal tersebut bisa disimpulkan dari inspection date yang selalu ter-up date, safety campaign yang memadai (dengan adanya safety briefing pada saat surfer akan meluncur melalui media LCDs yang terdapat di dalamnya), adanya life jacket dengan SOLAS standard yang berada di bawah tempat duduk setiap penumpang, petunjuk escape dan abandon procedure yang jelas. Selain akan merasa aman, passengers juga dikondisikan untuk senyaman mungkin dengan adanya Air Conditioner dan LCDs yang bisa digunakan untuk menonton films agar perjalanan tidak menjemukan (Gambar 5.)

Lokasi jetty yang ditunjukkan pada Gambar 3 adalah untuk materials transfer, passengers yang akan bepergian dapat masuk ke surfer melalui pintu lain seperti yang access way­-nya ditunjukkan pada Gambar 4. Terdapat beberapa tipe surfer, surfer 2500, surfer 200, surfer 1843 dan beberapa tipe lainnya. Saat transfer penumpang dari jetty ke surfer, para penumpang diwajibkan mengenakan safety helmet and shoes, dan mengenakan work vest. Bila ada penumpang yang tidak memiliki work vest, awak surfer yang selalu stand by dalam proses transfer tersebut akan memberikan pelampung yang tersedia kepada si penumpang tersebut. Selain itu, tangan passengers yang akan melakukan perpindahan dari jetty ke surfer harus bebas, tidak memegang apapun. Bila ada barang bawaan, barang tersebut harus dipindahtangankan terlebih dahulu ke awak surfer, baru kemudian penumpang melakukan perpindahan.

Sesaat setelah semua penumpang berada di dalam surfer, petugas membagikan form yang berisi nama, asal perusahaan, lokasi keberangkatan dan tujuan. Form tersebut diedarkan ke seluruh penumpang untuk diisi dan ditandatangani. Selama melakukan perjalanan dari jetty ke BL, biasanya akan diisi dengan penayangan beberapa films, tentunya setelah safety briefing usai dilakukan. Passengers dapat juga tidur maupun berbicara satu dengan lainnya atau melakukan kegiatan apapun tanpa meninggalkan tempat duduk masing-masing. Selama perjalanan suasana dibuat senyaman mungkin tanpa meninggalkan aspek keamanan dengan tetap mengenakan work vest.

Satu setengah jam perjalanan, surfer merapat ke salah satu platform di Blok Peciko (lihat Gambar 6.) untuk menurunkan 1 penumpang. Selanjutnya surfer melanjutkan perjalanan menuju living quarter Blok Bekapai (lihat Gambar 7.). Selain dilengkapi dengan living quarter, pusat Blok Bekapai juga dilengkapi dengan beberapa platforms yang memiliki fungsi beragam, well platform, flare platform dan platform untuk proses pengumpulan oil and gas yang berasal dari platforms sekitarnya yang kemudian dialirkan ke Total BSP melalui subsea pipeline.

Surfer 200 merapat di BL Bekapai dikisaran menit ke-60 dari keberangkatan Senipah jetty. Saat kunjungan lapangan tersebut (December 30, 2007), 2 (dua) oil service company (Schlumberger dan EWS, a member of Elnusa) sedang melakukan well service karena terjadi masalah di salah satu sumur BL yang totalnya berjumlah 8 wells (Gambar 8.). Dengan sedang dilakukannya pekerjaan tersebut maka dibutuhkan working barge (KGM-23, from Singapore) untuk membantu proses pengangkatan materials dan tools pendukung serta sebagai tempat singgah sementara para pekerja yang sedang melakukan rehabilitasi BL platform (Gambar 9.).

Keberadaan working barge di BL memberikan keuntungan kepada para pekerja yang saat itu melakukan site visit atau memang sedang ada pekerjaan di platform. Kebersihan barge (Gambar 10.) yang terjaga dengan baik dan dilengkapi dengan fasilitias pendukung seperti tempat ibadah untuk muslim, bar atau restaurant serta toilet bersih membuat nyaman para pekerja yang menunggu turunnya work permit dari client. Waktu efektif untuk bekerja di offshore tiap harinya hanya berkisar antara 4-5 jam karena waktu perjalanan dari dan ke jetty serta work permit yang terkadang menunggu lama, seperti pada kesempatan tersebut. Adanya pekerjaan work over, tim yang berangkat dari Senipah hanya diberi waktu 1 (satu) jam untuk menyelesaikan pekerjaan pada waktu tersebut.

KGM-23 merupakan salah satu working barge yang dimiliki oleh KGM, sebuah perusahaan dari Singapore. Walaupun perusahaan Singapore, barge master, crane operator dan petugas lain yang mengoperasikan working barge tersebut semuanya adalah Indonesian. Barge tersebut dilengkapi dengan crane dengan kapasitas 250 ton (Gambar 11). Crane tersebut digunakan untuk mengangkat mobile crane Petrolog dan beberapa pumps serta material lain dari working barge ke BL’s top deck.

Pukul 12 am, tepat setelah lunch time, worker bergegas untuk masuk ke dalam BL melalui jembatan penyeberangan (dari working barge menuju sub-cellar deck). Waktu 1 (satu) jam yang tersedia digunakan seoptimal mungkin untuk melakukan cool work, tanpa pengelasan maupun penggerindaan. Saat worker masuk pekerjaan well service dihentikan sama sekali sebagai bentuk minimalisasi resiko yang mungkin terjadi. Piping fit-up, piping measuring untuk menyiapkan as-built drawing, dan investigasi calon lokasi Vent Boom and KO Drum Installation merupakan serentetan pekerjaan yang harus selesai tepat pukul 1 pm.

Satu jam berlalu, worker dan semua pihak yang berada di BL dan tidak berhubungan dengan pekerjaan production diminta untuk kembali ke working barge, bergantian dengan worker dari oil service company untuk kembali melakukan pekerjaannya. Dikarenakan jadwal jetty dari Senipah adalah pukul 4.30 pm maka sisa waktu yang ada biasanya digunakan oleh para worker untuk bersantai di working barge, ada juga yang memancing walaupun sudah tercetak jelas larangan untuk melakukan fishing. Ternyata tidak sia-sia waktu yang ada pada saat tersebut, salah seorang awak working barge berhasil mendapatkan ikan kerapu (Gambar 12.) yang kemudian dipotong insangnya, dibersihkan bagian dalam tubuh ikan tersebut lalu disimpan dalam freezer.

Tepat pukul 4.30 pm surfer 1843 merapat di working barge. Setelah semua penumpang masuk ke dalam surfer dan awak surfer melakukan konfirmasi dengan pihak working barge serta Senipah jetty mengenai jumlah penumpang, surfer baru tersebut melaju lebih kencang ketimbang surfer 200 (saat keberangkatan dari jetty) sehingga jarak tempuh BL – jetty dapat dicapai dalam waktu satu setengah jam. Sesampainya di Senipah jetty, penumpang menukar kembali Total’s ID Card dengan ID Card mereka dan kembali ke tempat asal masing-masing.

Advertisements

Responses

  1. wow. penjelasan yang detail tentang pekerjaan di senipah…

  2. Hehehe…pernah kerja di Senipah juga kah Mas?

  3. cool

  4. siiiiiip

  5. Mas….Engineer d Total yah???

    Aq mhsiswa Teknik Pertambangan Tingkat Akhir tgl 9 Mei 2008 mengajukan Proposal Penelitian Tugas Akhir kke Total E&P Indonesie-Balikpapan dgn judul “Penentuan Volume Semen dan Evaluasi Penyemenan”.Oia…Kira d Total ada gak judul,project atau pembimbing untuk judul saya??Atau ada judul laen yg sedang dikerjaakan di Total dan dari field man aja (Peciko, Bekapai,handil,dsb).Rencana sy TA tgl 8 September 2008.Tp mpe skrg dr pihak HRD Total Balikpapan blom ngasi jawaban.Mohon bantuannya Mas-mas engineer.Kasi info k email saya.

    Thanx B4…

  6. Waduh maaf Mas Ferdy, saya ga di TOTAL. Saya di kontraktornya, memang mengerjakan blok bekapai nya TOTAL..Jadi maaf ga bisa bantu..

  7. Salut sama Indratmo Jaring Prasojo, hebat uey….
    Congratulation!! you did it….Hopefully it will be your valuable experience in your life.

  8. Weleh…ada tamu to…yup mudah2an Mas bisa jadi pelajaran hidup tambahan buatku dan tentunya dengan bimbingan Senior Structural Engineer juga dong :p

  9. Thanks mas buat artikel2nya, sangat bermamfaat untuk bahan kuliah saya.

  10. untuk rekan2 bertugas dimigas offshore mungkin bisa memberikan partisifasi buat saya tentang Hse safety dilapangan itu apa aja yang di lakukan dalam program2 dilapangan ????……..kalau ada ingin saya mau bergabung sebab pengalaman saya disafety construction bulding sudah 6th kira2 jalan keluarnya bgm sbb saya tdk bisa bahasa inggris???…..trima kasih …………sebelumnya rekan2
    dari saudara Hermi Email:hermi88@yahoo.co.id

  11. mas mau tanya nih .
    subsea pipeline dari bekapai field ke darat tu buried (terkubur) ato unburied (tidak terkubur) ?

  12. Wah kalo untuk pastinya saya tidak tahu Mas. Tapi, biasanya untuk subsea pipeline selalu buried.

  13. subsea pipeline tidak selalu burried mas,
    untuk special case saja, misal kedalaman kurang dari 13 meter (shore approach) baru dikubur dan itu wajib (kepmentamben berapa gitu lupa hihihihi), alesannya untuk menghindari anchor drop, dsb dan banyak alesan logis lainnya, dan banyak case lainnya dimana mengharuskan subsea pipelinnya di kubur.
    Tapi intinya subsea pipeline tidak selalu dikubur,
    nah untuk case bekapai saya tidak tahu juga hihihi

    • Mas Nanda,

      Terimakasih koreksinya..Jawaban di atas buat Mas Rahmat Rizki was my mistake, karena saya cuma tanya ke orang aja, ngga tahu atau belum tahu landasannya. Kebetulan memang kuliah offshore pipeline baru saya ambil semester depan, jadi mudah2an setelah ini bisa agak lebih tahu dan jelas dan punya landasannya.

  14. mas, ato pak, saya mhsw yang sedang ngerjakan TA, pingin tau kira2 berapa ongkos naik angkutan transportasi antar platform, ato tempat satu ke tempat yang lain,(mhn penjelasannya)
    terima kasih banyak

    • Untuk bisa mendatangi sebuah platforms musti memiliki izin dari oil company yang bersangkutan. Tidak bisa orang umum untuk bisa mendatangi platform tersebut. Dan tentunya setelah mengantongi izin, naik kapalnya gratis dari pelabuhan yang memang diperuntukkan untuk berangkat ke sebuah platform. Jadi kalau pertanyaannya berapa ongkosnya, jelas gratis alias tak berbayar.

  15. mas mau tanya kl kesehariana kerja di offshore gimana? kan kita sehari2 disitu apa ga bosan. makasih mas

    • Mas Agus, sebenernya klo dibilang sehari-hari di offshore sepertinya ngga gitu juga. Menurut peraturan dan biasanya memang seperti ini, personel yang ke offshore maksimal stay-nya adalah 2 minggu. Setelah 2 minggu, personel tersebut musti balik ke darat, untuk digantikan oleh kawannya. Pun klo di offshore di 2 minggu itu ngga akan bosan kok. Kan banyak kerjaan hehe…

  16. Mhon bntuanx buat kami selaku putra daerah segagu senipah,agar dpt bergabung dgn total.baik kontraktor atau pun total langsung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: