Posted by: Jaring | April 21, 2008

Tepat Malam Ini, Seminggu Kemarin..

Yup..

Masih tulisan lamaku, posted di blog lain akhir 2005.

Pelangi itu datang lagi…

ya…dia datang lagi dengan segala elok warnanya yang terbingkai dengan rapi nyaris tanpa cacat.
Waktu itu pelangi itu datang di siang bolong, aneh memang…tak ada hujan atau gerimis yang menjadi pertanda dia akan datang, tapi…aku coba flash back ke belakang….

Ya…kamis sore, masa itu ada insan-insan baru yang sedang mendulang ilmu tentang goresan kaku, goresan kaku yang menjadi dasar bidang ilmu yang sedang kutekuni di kampus ini, di kampus tempat putra-putri terbaik “bimbel” mempertanyakan dirinya, aku sangat sepakat dengan statement di belakang koma, karena aku sangat benci dan tidak suka bila dikatakan “putra-putri terbaik bangsa” karena sampai sekarang tak ada satupun yang kukaryakan ke bangsa ini….

waktu itu kamis sore ,tiba-tiba ada petir menggetarkan imajinasiku..kutengok..ternyata dia mengabarkan bila akan ada pelangi datang dalam waktu dekat, kututup lagi imajinasiku yang sempat tercerai akibat getaran petir tadi karena memang di hati kecilku aku tak ingin melihat pelangi itu lagi……
Tak disangka…kilatan petir itu sanggup memanggil pelangi itu datang lagi…ya datang lagi…tepat hari ini seminggu yang lalu….

Siang itu, tepat ketika langkah kaki kananku memasuki gerbang sebuah gedung tua di tempat aku mempertanyakan diriku, tiba-tiba getaran petir itu datang lagi…namun yang ini lain dari sebelumnya..
kaget, bahkan sempat menghentikan langkah kaki kiriku melayang di udara…berulang kali aku coba raba getaran elektromagnet itu untuk memastikan tipe gelombang apa yang dia bawa…Mmm..petir itu ternyata menandakan bahwa pelangi itu sudah menorehkan biasnya tepat di tempat kakiku berpijak..
Dengan segera aku coba alihkan konsentrasiku ke coretan kapur putih di depan, ada gejolak dan getaran seismograf yang sempat mengganggu ketetapan hati tuk memahami rentetan klausa dalam bahasa yang sedang aku coba maknai dengan segala keterbatasan yang ada…sulit memang sulit, warna terangnya menyembul di sudut ruangan yang aku tempati, silau jingganya tak mampu ku tepis, sadis memang….bahkan pelangi itu tak membiarkan biasnya terbuang percuma….

Untuk kesekian kalinya aku merasa kalah, dengan segala makian tentang diriku, kocoba tatap pelangi itu, ku coba telaah lagi tiap warnanya, pfuhh…memang..bahkan kekuatan karakteristik dari beton K-450 pun tak sanggup menutupi geliat biasnya…

Sangat menarik…unik, dan yang pasti mengandung banyak tanya,,mungkin itu justru tipikal pelangi yang aku suka, karena dengan cerdas dia bisa meguapkan adrenalin siapa pun juga.
Awalnya kucoba rasioku untuk tetap berputar, kucoba untuk mengaitkan tiap rodanya dengan hati-hati, pelumas pun sudah kuganti sehingga kemungkinan terjadinya “selip” bisa kuminimalisasi…
Namun….semuanya nampak sempurna, tak ada yang cacat, semuanya berjalan pada koridornya masing-masing..kunikmati saat-saat itu bahkan aku pun turut mengantar kepergian pelangi itu karena sinar matahari pun tak mau berkompromi untuk sekedar menahan sinarnya agar tidak redup, tentunya agar aku bisa menikmati lebih lama pelangi itu…

Hari itu berlangsung baik, baik, kebaikan yang sama sekali tak kuduga, akhirnya aku bisa bersua dengan pelangi itu setelah hanya awan-awan mendung saja, atau bias Halo bulan, atau bahkan bintang saja yang menemani sang langit meneduhi semua perilaku makhluk Tuhan.
Ternyata, walaupun telah tenggelam di telaga yang entah di mana letaknya, bias pelangi itu masih menjadi “dejavu” untukku, sering melintas menampar alis mataku namun tak kelihatan, yang pasti aku yakin itu adalah “dia”..tak biarkan semuanya menjadi dejavu, kucoba tabur bulir-bulir air, kucoba juga siram dengan aliran laminer, apa pun aku lakukan untuk coba panggil pelangi itu…entah karena tak ada sinar yang kuat atau mungkin pelangi itu yang enggan mengepakkan biasnya…

yang pasti tepat satu minggu sejak saat itu pelangi itu tak satu pun membiarkan biasnya menghias langit ganesha…aneh..sangat aneh…tapi kucoba memahami warna-warna bumi dengan harapan bila pelangi itu datang lagi tak ada keinginan berlebih dariku untuk melihatnya karena warna bumi pun lebih santun tuk dicermati dengan paradigma yang lebih sehat..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: