Posted by: Jaring | November 24, 2008

Masa Peralihan

Sudah banyak beredar di dunia per-milist-an (salah satunya) tentang bagaimana perjuangan sang kupu-kupu ketika dia harus berontak sekuat tenaga untuk bisa keluar dari kepompong demi menyambut dunia barunya. Dan juga banyak beredar cerita tentang perjuangan kupu-kupu yang dibantu oleh seseorang saat dia sedang berusaha keluar dari kepompong, hasilnya? Sang kupu-kupu tidak bisa terbang, karena otot2 yang seharusnya sudah terlatih (saat dia berjuang keluar dari kepompong) masih loyo. Loyo dan tidak terlatih karena perjuangan yang ia lakukan tidak sebagaimana mestinya.

Tidak jauh berbeda dengan masa peralihan dari seorang murid SMU menjadi seorang mahasiswa. Kenyamanan yang selama waktu SMU dia rasakan sedikit banyak harus ditinggalkan. Saat SMU, semuanya sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tugasnya hanya berangkat ke sekolah, menuju ruang kelas (yang sudah tertera saat pendaftaran) dan guru datang silih berganti seiring bergantinya mata pelajaran. Kalo Mahasiswa? Dia harus selalu meng-update jadwal dan ruang tempat dia kuliah, karena setiap mata kuliah yang berbeda (biasanya) ruangannya juga berbeda. Itu hanya satu contoh kenyamanan yang hilang saat seseorang mengalami masa peralihan dari murid menjadi mahasiswa.

Lalu, apakah seseorang yang sudah lulus kuliah dan bekerja bisa juga mengalami masa peralihan? Tentu saja. Zona kenyamanan manusia bertingkat-tingkat, sama dengan deck di platforms. Untuk bisa naik dari level boat landing (atau sub cellar deck) menuju cellar deckperlu menaikki ladder (atau tangga). Ada bedanya? Tentu saja. Di boat landing (sub cellar) selain ruang geraknya sempit, dan terbatas, masih ada kemungkinan terkena percikan air laut akibat gelombang yang menabrak kaki-kaki platforms. Agar tidak kena percikan air tersebut lalu bagaimana? Naiklah ke level Cellar deck, satu level lebih tinggi dari boat landing. Tidak ada lift, atau escalator, harus naik melalui ladder atau tangga. Untuk bisa naik, dibutuhkan energi tambahan, dibutuhkan kemauan, dan tentunya ada ladder-nya (atau ada kesempatan).

Rutinitas kerja, berangkat jam 6 pagi, pulang jam 8 selama 3 bulan non-stop sepertinya bakal segera ditinggalkan. Apakah rutinitas tersebut terasa nyaman? Tentu saja. Karena semua sudah tersedia, dari transportasi yang sangat layak dari mess ke kantor, penginapan (mess) yang sudah tersedia dengan fasilitas2 pendukungnya, pekerjaan yang menantang dan tentunya ilmu konstruksi yang diperoleh. Sangat nyaman malahan kalau bisa dibilang. Lalu, kenapa musti beralih, atau kenapa musti mengalami masa peralihan lagi?

Jawabannya adalah “m i m p i”.

Ada mimpi yang selalu terbayang-bayang setiap saat. Ada mimpi yang menunggu untuk dijemput. Dan ada mimpi yang tak mau menunggu lama.

Tepat setahun (atau lebih beberapa hari) rasanya sudah “cukup” untuk merasakan kehangatan Pulau Kalimantan. Pulau di Indonesia kta tercinta ini yang sangat kaya, ibaratnya kalo kita iseng menggali tanah sedalam 1 meter saja sudah muncul minyak dan batubara yang tentunya bernilai tinggi. Tapi, bagaimana dengan kondisi alam serta infrastrukturnya? Nanti saja diceritain, di tulisan yang lain ๐Ÿ™‚

Sebuah proses yang panjang menuju hari bahagia itu, ketika quote di YM yang biasanya “Superman, S.T. is online” berubah menjadi “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin”. Diawali dengan kegagalan memperoleh nilai TOEFL yang cukup untuk bisa menembus Erasmus Mundus Scholarship pada saat masih ngantor di bilangan Kartini, Jakarta Selatan. Sang Maha Pemberi Jalan rupanya memberikan jalan lain, ya…jalan untuk ke Pulau gemah ripah loh jinawi ini.

Monthly income yang “tidak wajar” sedikit banyak membangunkan atau membukakan jalan lain untuk menuju mimpi. Muncul jalan (yang sebelumnya tersembunyi) untuk melakukan self financing. Ya….mengambil Master dengan biaya sendiri. Setelah melalui beberapa pencarian di media2 dunia maya dan melakukan korespondensi ke teman2 yang sudah beredar di mana-mana akhirnya ketemu juga tempat yang pas, at least feasible untuk dijadikan “stepping stone” menuju mimpi itu. TIdak jauh2, di negeri tetangga, negeri yang berpuluh-puluh tahun lalu mengirimkan warga negaranya untuk bersekolah di Indonesia, namun sekarang berkebalikan. OK…”Boleh jadi saat-saat sekarang Warga Negara Indonesia yang berbondong-bondong belajar di negara sampeyan, tapi lihat saja 10 atau 20 tahun ke depan, warga sampeyan akan kembali ber-bedol desa ke Indonesia untuk belajar”. Mudah2an quote tersebut paling tidak terpikir oleh para penguasa Republik ini. Dengan segala macam kompleksitas permasalahan intern negeri ini sendiri yang mungkin tingkat kesulitannya bisa diibaratkan sebagai perasaan yang didera oleh seorang anak TK yang harus menyelesaikan soal Integral lipat tiga.

Kabar gembira yang datang beruntun, karena dari 2 (dua) Universities yang dilamar, kedua2nya mengirimkan Offer Letter. Sebuah perasaan bersyukur yang tiada duanya. Tidak ada yang lebihย  bahagia dari perasaan seseorang bila rencana yang telah disusunnya berjalan dengan rapi dan sesuai koridor yang telah dipetakan sebelumnya. Apakah hanya seperti itu saja? Tentu tidak, perhitungan yang beberapa kali meleset membuat actual budget ternyata sangat jauh melenceng dari pemikiran awal. Efeknya, out of budget. Mungkin bukan hanya bisa dibilang “out of budget” karena kekurangan bisa sampai 60% !! Lalu bagaimana?

Nyaris bisa dibilang nekat dan mungkin cenderung konyol. Lalu ngga jadi? Tentu tidak. Sekali layar terkembang, pantang disurutkan kembali. Berbekal keyakinan akan kuasa Yang Maha Kuasa, dan tentunya very2 limited budget, Insya Allah akan tetap berangkat. Berangkat dengan tambahan bekal yang abadi, tak akan surut dimakan apapun, “semangat”…ya…”Masih semangat klean Kuy??!!!!” –> “Semangat Kalipun Boss!!!!”

Berusaha komitmen dengan jawaban tersebut, itu aja pegangannya ๐Ÿ™‚

Dengan membaca Basmalah, Insya Allah siap melewati Masa Peralihan lagi. Namun, kali ini dengan apa yang melekat di diri sendiri. Kali ini dengan apa yang ditanggung oleh 2 kaki ini. Kali ini sebagai manusia yang dewasa completely, tanpa sokongan dari orang tua. Lalu, bagaiman dengan kekurangannya? Jawabannya ada di sana, iya..jawabannya bakal tersedia di sana, Insya Allah. Yang penting berangkat aja dulu. Selanjutnya, “kesaktian” superman akan teruji pada saat2 yang critical.

Tidak ada satu helai daun pun di dunia ini yang jatuh tanpa sepengetahuan Tuhan Yang Maha Kuasa (quoted from bukunya Andrea Hirata). Tidak ada kebetulan yang terjadi di dunia ini, sesuatu terjadi pasti berhubungan dengan sesuatu2 yang sebelumnya. Atau bisa juga dibalik, apa pun yang terjadi hari ini, saat ini pasti ada hubungannya atau mendukung sesuatu yang bakal terjadi di hari depan. Satu kepakan sayap kupu2 sangat logis bisa menghasilkan tornado atau angin topan di suatu hari di depan, di tempat yang berbeda.

Selamat melewati Masa Peralihan kawan2, dan buatku juga. Karena zona nyaman di level yang lebih tinggi akan bisa digapai setelah melewati Masa Peralihan tersebut dengan sukses.

Selamat berjuang, selamat berkorban, dan selamat menjemput mimpi.

–Kutai Kartanegara, November 24, 2008– (masih di Indonesiaku tercinta)

Advertisements

Responses

  1. smangat mo!!!!!

  2. ๐Ÿ™‚ Terimakasih Boss…Mudah2an SEMANGAT di dirimu juga kian berkobar..Yang jelas tak ada yang tak mungkin didapat dengan bekal SEMANGAT..(dan tentunya ridho Allah SWT).

  3. semangat bos mo!!!
    kami tunggu berita2 bahagianya
    hehe

    -aim-

  4. thanks Kuy..
    Cem mana kabar situ? Dah di mana skrg?

  5. Mas Indratmo,

    Salam kenal. Saya Pandu,
    Skrg juga lagi menjajaki untuk ngambil master di NTU atau NUS S’pore. untuk bidang marine/ offshore engineering.
    Ini ngambil program yg research atau yg cousework ya ? Kenapa kok NUS yg lebih bagus ? bukannya NTU lebih dahulu mengembangkan program ini ?
    Untuk disiplin ilmu offshore engineering-nya, apa ada mutlak pengalaman harus di bidang offshore engineering ? apa background pendidikan pengalaman kerja di luar itu masih bisa diterima ga’ ya ?
    Oh iya, background saya physics dan saya skrg bekerja di bidang marine & offshore juga, cuman lebih mengarah ke machinary ketimbang structure.
    Kalo boleh saya mau diskusi via japri dg mas Indratmo terutama mengenai pilihan graduate program ini. trim’s
    Salam
    -Pandu

  6. Pandu,

    Aku dah japri alamat email-ku. Silahkan lanjut lewat email kalo mau ada yang ditanyain lagi. Saya ambil Coursework Based, karena niat saya sekolah memang untuk enhance career di bidang offshore. Jelas NUS lebih baik (terutama utk bid offshore) bila dibandingkan dgn NTU. Di peringkat dunia universitas NUS peringkat 30 sedangkan NTU peringkat 70, khusus utk bid engineering NUS peringkat 11 dan NTU peringkat 28. Dari mata kuliah offshore sangat jelas sekali NUS lebih banyak dan ada CORE (Center of Offshore Research and Engineering)-nya.
    Tdk hrus mutlak kerja di bid offshore trus bisa keterima di Offshore Specialization. Temenku kerja 1 tahun di mining keterima juga, tapi ya bayar sendiri, sama kaya aku :). Background physics? maksudnya S1-nya Teknik Fisika ato Fisika gitu? Waduh..Offshore-nya NUS itu dari Dept. of Civil Eng, jadi main requirement-nya S1-nya adalah dri Civil dan atau Ocean Engineering.

  7. Mo, Smangat ya …
    Aku yakin, kamu pasti bisa;
    Seperti Mo yang kukenal;
    Seperti biasanya ๐Ÿ™‚

    Mohon doa ya,
    Smoga suamiku bisa mengikuti jejakmu bro ๐Ÿ™‚
    (harapanseorangistriyangmencobamenjadipensupportsejati)
    Amin.

  8. Hehe..terimaksih udah mampir..Insya Allah La, mohon doanya ya.
    So pasti dong, istri itu ibarat beton bertulang adalah berfungsi sebagai tulangannya. Musti lebih fleksible tapi memiliki kuat tensile yang ruarr biasa..mampu menahan saat sang concrete sudah mulai fracture…hehehe..bingung2 dah..
    Suami kmu mau skolah lagi juga…
    Insya Allah doaku menyertaimu, dan keluarga…
    Amin


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: